//
you're reading...
Makalah

Perang Salib

Perang Salib

“Zaman pertengahan merupakan periode sejarah yang penting dan kompleks. Dalam kurun waktu seribu tahun, saling berinteraksilah berbagai suku, institusi dan kebudayaan. Semuanya itu merupakan suatu proses perkembangan sejarah yang menjadi basis dan peradaban modern.” (Charles H. Hask in)

Terdapat beberapa teori yang digunakan untuk menggambarkan proses sejarah yang berkaitan dengan Perang Salib. Teori-teori tersebut antara lain teori siklis dan teori linear. Teori pertama menganggap bahwa perkembangan sejarah berjalan secara melingkar yang berjalan antara zaman keemasan dan kehancuran. Dengan demikian teori ini menganggap bahwa pengulangan masa lalu pada masa kini atau masa depan merupakan suatu hal yang lumrah. Sebaliknya, teori linear menganggap bahwa pengulangan sejarah tidak pernah terjadi. Proses sejarah berjalan lurus mengikuti babak baru yang tidak pernah dikenal pada masa lalu. Terakhir muncul teori yang menggabungkan kedua teori tersebut, yaitu bahwa teori pengulangan sejarah akan terulang, namun bukan dalam bentuk yang sama.

Berdasarkan teori ketiga, terlepas dari topik-topik yang melandasi sebuah babak penting dalam sejarah perang, terdapat unsur-unsur utama yang melekat pada setiap babak sejarah, yaitu sebab, proses dan dampak, baik berkenaan dengan actor maupun struktur masyarakat.
Berdasarkan permasalahan diatas, tulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan Perang Salib sebagai proses interaksi. Secara berturut-turut bagian-bagian dan tulisan ini berusaha menggambarkan sebab-sebab, mekanisme, dan dampak yang ditimbulkan Perang Salib.

Sebab-sebab Perang Salib

Sejak berdirinya kekuasaan Islam, orang-orang Kristen diberi kekuasaan beragama dan berbagai jabatan dalam pemerintahan. Ketika Jerussalem dan Syria di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah dan Mesir, penguasa Mesir mendorong perniagaan dan perdagangan Kristen. Akan tetapi, segala hak istimewa dan toleransi tidak bisa menentramkan orang Kristen yang menganggap kehadiran orang Islam di Jerussalem sebagai suatu hal yang tidak disukai. Inilah yang menjadi penyebab utam munculnya Perang Salib, selain faktor-faktor lain yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Amir K. Ali menyebutkan beberapa penyebab terjadinya Perang Salib, yaitu sebagai berikut:

  1. Perang Salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dengan Barat, dalam hal ini antara orang Islam dengan orang-orang Kristen, untuk saling menguasai. Pemunculan Islam yang cepat menimbulkan suatu goncangan bagi seluruh Eropa Kristen sehingga pada abad XI pasukan orang Kristen Barat diarahkan untuk melawan Islam.
  2. Pelaksanaan ziarah orang Kristen di Jerussalem semakin bergairah pada abad II debandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Karena Jerussalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, tidak jarang para jemaah Kristen mendapat perlakuan yang tidak baik dan dirampok. Informasi mengenai perlakuan demikian cenderung berkembang dan secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi keras orang Kristen di seluruh dunia.
  3. Pada masa itu Eropa Kristen ditandai oleh kekacauan feodalisme. Raja dan pangeran terlibat perang satu sama lain. Sehubungan dengan itu, orang Kristen dengan dukungan Paus berusaha memanfaatkan semangat perang internal agama menjadi perang antaragama. Dalam hal ini semangat perang orang Kristen disalurkan untuk memerangi orang Islam. Jalur perdagangan internasional terpenting, dalam hal ini Laut Tengah, dikuasai oleh orang Islam. Lalu lintas pedagang Kristen dan kawasan Eropa tertentu (Pisa, Venezia, dan Genoa) terhambat. Dengan demikian, persaingan ekonomi memicu terjadinya Perang Salib. Wilayah kekuasaan Alexius Comnenus di Asia diserbu oleh bangsa Seijuk. Oleh karena itu, ia meminta bantuan Paus Urbanus II untuk menyerang orang Islam. Berdasarkan rapat dewan tanggal 26 November 1095, seruan untuk melawan orang Islam mulai dikumandangkan. Seruan tersebut mendapat sambutan baik di kalangan orang Kristen, khususnya orang Frank dan Norma.

Untuk menjelaskan hubungan antar-sebab tersebut, penulis menggunaan teori yang digunakan oleh Neil J. Smelser dalam menjelaskan prakondisi-prakondisi yang menimbulkan terjadinya konflik antar kelompok dalam struktur sosial, yaitu:

  • Adanya struktur sosial yang kondusif bagi terjadinya konflik;
  • Adanya hambatan structural dalam menengahi pendidikan;
  • Pertumbuhan dan perkembangan suatu perasaan umum pada suatu kelompok bahwa mereka tertindas oleh kelompok lain dan harus diatasi;
  • Mobilisasi tindakan dalam mengatasi perasaan umum di atas; dan
  • Adanya pengorganisasian tindakan yang terkendalikan sedemikian rupa.

 

Demikian pula halnya dengan Perang Salib. Struktur hubungan Islam-Kristen pada abad pertengahan sangat kondusif bagi terjadinya perang. Amir K. Ali menyatakan bahwa Perang Salib terjadi akibat konflik lama antara Timur (Islam) dengan Barat (Kristen) untuk saling menguasai dunia. Kondisi struktural tersebut diikuti oleh adanya hambatan struktural antara kedua kelompok yang terlibat dalam Perang Salib, yaitu berupa perbedaan latar belakang keyakinan, nilai, kaidah dan symbol dari kedua pihak.

Di kalangan orang Kristen tumbuh suatu perasaan bahwa mereka tertindas oleh orang Islam. Hal ini dipercepat oleh perlakuan tidak baik terhadap pelaksanaan ziarah besar-besaran orang Kristen pada abad XI. Pada waktu itu Paus memobilisasi tindakan orang Kristen dengan mengalihkan tindakan orang Kristen dengan mengalihkan tindakan perang intern agama menjadi perang antar-agama (melawan orang Islam). Akhirnya, mobilisasi tindakan tersebut diorganisasikan dan terkendalikan sedemikian rupa berdasarkan seruan Mexius Comnenus kepada Paus Urbanus II.

Proses Perang Salib

Philip K. Hitti berpendapat bahwa Perang Salib terbagi menjadi tiga angkatan pertama, masa penaklukan, yang berjalan sampai tahun 1144 M. kedua, masa timbulnya reaksi Islam terhadap penaklukan itu. Ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan dan berakhir pada 1291 M. sedangkan Amir K. Ali dan beberapa sejarawan lain membaginya menjadi 8 angkatan. Adapun rangkaian peristiwanya adalah sebagai berikut:

a. Perang Salib I

Angkatan pertama Salib menduduki Antiokia dan Mirrat-un Norman sebelum akhirnya menaklukan Jerussalem pada tahun 1097 M oleh pasukan ketiga di bawah pimpinan Godfrey dan Boullion. Selanjutnya, Godfrey diangkat menjadi raja di Jerussalem. Setahun kemudian Baldwin menggantikannya dan memimpin kelanjutan penaklukan daerah Islam. Di bawah pimpinan Baldwin, tentara Salib merebut Tripoli dan Damaskus pada Tahun 1109 M.
Dan pihak Islam, Imanuddin Zangi (1123 -1146) memainkan peran penting dalan sejara Perang Salib. Zangi berhasil membebaskan Aleppo dan Hammah dari tangan tentara Salib. Penaklukan terbesar dan Zangi adalah merebut Edessa (salah satu kota keuskupan yang paling mulia bagi orang Kristen).

b. Perang Salib II
Jatuhnya Edessa menimbulkan berbagai ketegangan di seluruh Eropa. Hal ini menyebabkan munculnya Perang Salib II (1147 – 1149) di bawah pimpinan Raja Jerman, Conrad III dan Raja Francis, Louis VII. Namun, kekuatan militer gabungan ini tidak membuahkan hasil. Bahkan akhirnya, Sultan Salahuddin mampu menguasai kembali Damaskus, Jerussalem, dan Acre (pos utama tentara Kristen).

c. Perang Salib III
Kegagalan di atas membangkitkan gelombang protes orang Kristen. Selanjutnya, Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, Raja Philip Augustus dari Francis, dan Raja Richard I dari Inggris menyusun kembali tentara gabungan untuk menyerang Jeerussalem. Setelah berperang selama 3 tahun (1189 – 1192 M), akhirnya tentara Kristen mengajukan perdamaian. Dasar perjanjian tersebut antara lain bahwa daerah pesisir akan menjadi milik orang-orang Latin, daerah pedalaman menjadi milik orang Muslim, dan bahwa rakyat dari kedua belah pihak boleh saling memasuki wilayah tanpa diganggu.

d. Perang Salib IV – VIII
Dua tahun setelah Salahuddin wafat, Perang Salib keempat dibuka kembali atas anjuran Paus Colestine III. Pada tahun 1196 M tentara Salib merebut Sycilia dan Beirut. Akan tetapi Aadil (anak Salahuddin) berhasil mengalahkan tentara Salib. Selanjutnya diadakan gencatan senjata selama tiga tahun.
Perang Salib V (1201 M) dan VI (1216 M) terjadi di bawah pimpinan Innocent III. Pada Perang Salib V, tentara Salib berhasil menguasai Konstatinopel. Sedangkan pada Perang Salib VI, mereka terdesak oleh tentara Islam. Akhirnya terjadi perjanjian perdamaian di antara kedua belah pihak.
Pada tahun 1238 M (Perang Salib VII), pasukan Kristen di bawah pimpinan Gregory IX berusaha merebut kembali Jerussalem, akan tetapi digagalkan oleh Abu Nasar Daud. Sedangkan Perang Salib VIII terjadi tahun 1244 M di bawah pimpinan Louis IX dari Francis. Pada perang ini pun Louis mengalami kegagalan.

REFERENSI
 Ahmad, Shalabi. 1975. Perang Salib (terjemahan Syeh Ahmad Semit). Singapura: Pustaka Nasional.
 Mubarok, Jaih. 2004. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
 Sanusi, Jafar, Drs. 1944. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: Wicaksana.

About ahfidz

I am the always curios person. n I do enjoy it as a part of my way.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2012
S S R K J S M
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 896 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: