//
you're reading...
Uncategorized

ILMU-ILMU AL-QUR’AN

Resume Buku Ulumul Qur’an

“ILMU-ILMU AL-QUR’AN”

Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy

 

Bagian Pertama

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU AL-QUR’AN

 

Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an dengan kata lain segala ilmu yang merupakan sarana untuk memahami Al-Qur’an, seperti dari segi nuzulnya, tertibnya, pengumpulannya, menulisnya, membacanya, menafsirkannya, i’jaznya, nasikh mansuksnya, dan lain-lain, termasuk kedalam ulumul Qur’an.

Semasa Rasulullah SAW masih hidup, beliau melarang para sahabat menulis apa yang mereka dengar dari beliau selain Al-Qur’an, karena beliau khawatir akan bercampur antara Al-Qur’an dengan yang bukan Al-Qur’an.

Ilmu-ilmu Al-Qur’an di masa beliau, Abu Bakar ra. Dan Umar ra. disampaikan dengan jalan talqin dan musyafahah, dari mulut ke mulut. Baru pada pemerintahan Utsman penyebaran mushaf dilakukan ke kota-kota besar dengan berpegang pada mushaf al-Imam sedangkan mushaf-mushaf selain itu dibakar dan dihancurkan. Tindakan Utsman ini merupakan awal berkembangnya ilmu Rasm al-Qur’an atau ilmu Rasm al-Utsmany.

Ali ra. adalah peletak batu pertama ilmu i’rab al-Qur’an karena pada masa pemerintahannya, dia menyuruh Abu Al-Aswad ad-Dualy membuat kaidah untuk memelihara keselamatan bahasa Arab.

Dengan memperhatikan sejarah pertumbuhan ilmu, kita dapat menetapkan bahwa tokoh-tokoh ilmu yang merintis jalan berkembangya ilmu-ilmu Al-Qur’an adalah:

Dari golongan sahabat:

  1. Khulafa’ Rasyidin
  2. Ibnu Abbas
  3. Ibnu Mas’ud
  4. Zaid ibn Tsabit
  5. Ubay ibn Ka’ab
  6. Abu Musa al-Asy’ary
  7. Abdullah ibn Zubair

Dari golongan tabi’in:

  1. Mujahid
  2. Atha’ ibn Yasar
  3. Ikrimah
  4. Qatadah
  5. Al-Hasan al-Bishry
  6. Said ibn Jubair
  7. Zaid ibn Aslam

Dari golongan tabi’it-tabi’in ialah Malik ibn Anas. Beliau mengambil ilmu ini dari Zaid ibn Aslam. Mereka adalah tokoh-tokoh yang meletakkan dasar ilmu-ilmu yang kita namakan:

  1. Ilmu Tafsir
  2. Ilmu Asbab an-Nuzul
  3. Ilmu Al-Makky wa al-Madany
  4. Ilmu An-Nasikh wa al-Mansukh
  5. Ummu al-‘Ulumul al-Qur’aniyah

Di dalam masa pentadwinan (kodefikasi) ilmu, tafsirlah yang menjadi prioritas pertama, karena dia adalah Ummu al-‘Ulumul al-Qur’aniyah (induk ilmu-ilmu Al-Qur’an).

Dalam buku ini diterangkan bahwa ilmu-ilmu Al-Qur’an terus mengalami perkembangan hingga abad keempat belas Hijriyah.

 

Bagian Kedua

SEBAB-SEBAB TURUNNYA AYAT AL-QUR’AN

  1. 1.      Kedudukan dan Pentingnya Ilmu Asbab an-Nuzul

Segala sesuatu pasti ada sebab dan musababnya. Begitu pula halnya dengan ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan Allah SWT. Asbab an-nuzul tidak lain daripada kisah yang dipetik dari kenyataan dan kejadian, baik mengenai peristiwanya maupun mengenai orang-orangnya.

Perlulah kiranya mengetahui peristiwa sebab-musabab tersebut karena dengan itu akan menolong kita memahami dan merasakan saripati dari syair-syair Allah dan merupakan pembantu yang baik untuk menetapkan takwil yang lebih tepat dan tafsir yang lebih benar bagi ayat-ayat itu.

Secara umum kita percaya bahwa setiap ayat yang diturunkan ada sebab-musababnya namun tidak demikian. Ternyata para ulama menghendaki supaya ayat-ayat Al-Qur’an dibagi menjadi dua:

  1. Ayat-ayat yang ada sebab nuzulnya.
  2. Ayat-ayat yang tidak ada sebab nuzulnya.

Hal ini terjadi dikarenakan tidak setiap ketika Rasulullah menerima ayat Allah, sahabat ada bersama beliau. Oleh karenanya tidak heran bagi kita apabila ada sahabat yang tidak mengetahui selengkapnya. Semakin jauh manusia dari zaman turunnya Al-Qur’an, semakin sukar lagi mengetahui sebab turunnya, karena semakin jauh dari sumber yang jernih. Inilah sebabnya ulama-ulama salaf sangat ketat dalam menerima riwayat yang berhubungan dengan sebab nuzul ayat, baik mengenai rawi maupun matan-matan yang diriwayatkan.

  1. 2.      Berbilang yang Turun Sedang Sebab Tetap Satu

Terkadang suatu kejadian menjadi sebab bagi dua wahyu yang diturunkan. Para ahli tafsir muhaqqiqin menggunakan miqyas-miqyas dalam menguatkan riwayat-riwayat yang menerangkan asbab an-nuzul. Dengan miqyas-miqyas ini memudahkan para imam membersihkan sisipan-sisipan orang yang ingin membuat-buat asbab an-nuzul. Ahli-ahli tafsir sering mendahulukan penjelasan tentang munasabah (persesuaian) ayat antara satu dengan yang lainnya untuk mengetahui sebab nuzulnya ayat, karena inilah yang menyebabkan terwujudnya keserasian antara ayat dengan ayat, dan itu tidak berlebihan. Imam Abu Bakar an-Naisabury berpendapat bahwa meletakkan wajah munasabah antara ayat-ayat itu haruslah diletakkan di tempat pertama karena wajah munasabah ini membahas tentang kedudukan tiap-tiap ayat, apakah dia merupakan ayat yang menyempurnakan bagi ayat yang sebelumnya ataukah berdiri sendiri.  

  1. 3.      Hubungan Surat dengan Surat (Ikatan Surat dengan Surat)

Urutan surat dengan surat adalah tauqify, artinya ditertibkan oleh Rasul sendiri bukan oleh ijtihad para sahabat. Namun penertiban surat berdasarkan tauqify ini tidak mengharuskan adanya ikatan antara setiap surat itu dan tidak selalu ada ikatan antara surat yang terdahulu dengan yang kemudian. Demikian pula dengan penertiban ayat-ayat yang ditetapkan oleh Rasul, tidak pula mengharuskan adanya hubungan antara suatu ayat dengan yang lainnya apabila masing-masing ayat itu mempunyai sebab-sebab yang berbeda-beda.

 

 

Bagian Ketiga

SURAT YANG DITURUNKAN DI MAKKAH DAN MADINAH

Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah adalah hal yang harus diperhatikan benar-benar untuk dapat:

  1. Menentukan marhalah-marhalah dakwah Islamiyah
  2. Mengetahui langkah-langkah yang berangsur-angsur ditempuh oleh Al-Qur’an
  3. Mengetahui persesuaian ayat-ayat dengan lingkungan Makkah dan Madinah
  4. Mengetahui uslub-uslub Makkiyah dan Madaniyah dalam menghadapi orang-orang  mukmin, musyrik, dan ahli kitab.

Untuk mengetahuinya, kita harus membahas ilmu ini dari beberapa segi:

  1. Dari segi masa turunnya (tartib zamany)
  2. Dari segi tempat turunnya (tahdid makany)
  3. Dari segi topik yang dibicarakan (tahwil maudhu’y)
  4. Dari segi orang-orang yang dihadapinya (ta’yin syakhsyi)

Ada suatu pedoman yang bisa kita pegang untuk mengetahui mana surat atau ayat Madaniyah dan Makiyah:

  1. Ciri-ciri Khusus Surat Makkiyah
    1. Mengandung ayat sajdah
    2. Terdapat lafal kalla
    3. Terdapat seruan dengan ya ayyuhannasu dan tidak terdapat ya ayyuhalladzina  amanu, terkecuali surat Al-Hajj yang diakhirnya terdapat ya ayyuhalladzina amanu irka’u wasjudu. (QS. AL-Hajj [22]:77)

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa surat itu Makkiyah.

  1. Mengandung kisah Nabi-nabi dan umat-umat yang telah lalu, kecuali surat Al-Baqarah
  2. Terdapat kisah Adam dan Idris, kecuali surat Al-Baqarah
  3. Surat-suratnya dimulai dengan huruf attahajji, kecuali surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat Ar-Ra’d dan dua pendapat, jika dilihat dari segi uslub dan temanya maka dia lebih tepat kita katakana surat Makkiyah dan sebagian ulama lain mengatakan surat Madaniyah

Keenam ciri ini sesudah dikecualikan beberapa ayat yang tersebut itu adalah ciri-ciri yang qath’y yang tepat benar penerapannya.

  1. Ciri-ciri Umum Surat Makkiyah
    1. Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak
    2. Mengandung seruan pokok-pokok iman kepada Allah, hari akhir dan menggambarkan keadaan surge dan neraka
    3. Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempang diatas jalan kebajikan
    4. Mendebat orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka
    5. Banyak terdapat lafal sumpah
  1. Ciri-ciri Khusus Surat Madaniyah
    1. Di dalamnya ada izin berperang atau ada penerangan tentang hal perang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya
    2. Di dalamnya terdapat penjelasan bagi hukuman-hukuman tindak pidana, fara’id, hak-hak perdata, peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
    3. Di dalamnya tersebut tentang orang-orang munafik, kecuali surat Al-Ankabut yang diturunkan di Makkah. Di dalamnya terdapat sebelas ayat yang pertama adalah ayat-ayat Madaniyah. Di dalam ayat-ayat itu disebut tentang orang-orang munafik
    4. Di dalamnya didebat para ahli kitab dan mereka diajak tidak berlebih-lebihan dalam beragama, seperti terdapat dalam surat Al-Baqarah, An-Nisa, Ali Imran, At-Taubah dan lain-lain.
    5. Ciri-ciri Umum Surat Madaniyah
      1. Suratnya panjang-panjang, sebagian ayatnya pun panjang-panjang serta jelas menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang.
      2. Menjelaskan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang menunjukkan kepada hakikat-hakikat keagamaan.
  1. Surat-surat Makkiyah dan Madaniyah Terdiri Atas Tiga Marhalah
    1. Marhalah Ibtidaiyah
    2. Marhalah Mutawasithah
    3. Marhalah Khitamiyah
    4. Uslub Surat-surat Makkiyah Marhalah Pertama
      1. Ayat-ayatnya pendek bahkan sangat ringkas
      2. Terdapat banyak sumpah dengan kenyataan-kenyataan alam ini
      3. Trdapat lafal-lafal insya’, baik amar, nahyu, tamanni dan raja’, semuanya bernada panas, bersajak, terkadang bernada keras dan menakutkan.
      4. Keadaan Surat-surat Makkiyah Marhalah Kedua
  • Pada marhalah yang kedua ini, pada umumnya terdapat kesamaan dengan marhalah pertama baik dari segi uslub dan maudhu’nya.
  • Surat-surat Makkiyah Marhalah Ketiga;  Kebanyakan surat-surat dan ayat-ayatnya panjang
  • Ciri-ciri Surat Madaniyah dari Marhalah ke Marhalah; Mengandung berbagai hakikat syari’ah (ibadah, muamalah, haram dan halal, ahwal syakhsyiyah, qawanin dauliyah, siyasiyah, iqtishadiyah, urusan perang dan damai, pertempuran dan peperangan).

 

 

Bagian Keempat

FAWATIH AS-SUWAR

  1. 1.      Keistimewaan-keistimewaan Surat Makkiyah

Di antara keistimewaan surat-surat Makkiyah ialah banyak surat-suratnya yang dibuka dengan huruf-huruf Hijaiyah yang kemudian disebut dengan fawatih as-suwar. Adapun bentuk redaksi Fawatih As-Suwar ialah sebagai berikut:

  • Yang terdiri dari satu huruf. Terdapat pada tiga surat, yaitu surat Shad, Qaf, dan Al-Qlam.
  • Yang terdiri dari dua huruf. Terdapat pada sepuluh surat. Tujuh diantaranya dinamakan hawamim.
  • Yang terdiri dari tiga huruf. Terdapat pada tiga belas surat. Enam surat dimulai dengan alif lam mim; surat Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman dan As-Sajdah. Lima surat dimulai dengan alif lam ra; surat Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim dan Al-Hijr. Dua surat dimulai dengan tha sin mim; surat Asy-Syu’ara dan Al-Qashash.
  • Yang terdiri dari empat huruf. Terdapat pada surat Al-A’raf dan Ar-Ra’d.
  • Yang terdiri dari lima huruf. Terdapat pada surat Maryam.
  1. 2.      Pendapat Ulama Tentang Makna Fawatih As-Suwar

Pendapat para ulama dan mufassir, terdapat di dalamnya Az-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, Imam Ibnu Taimiyha dan Al-Hafizh Al-Mizzi, bahwa Fawatih As-Suwar ini menunjukkan Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa arab tidak dapat ditandingi oleh bangsa arab sendiri. Hal ini menunjukkan kepada kelemahan mereka. Kebanyakan ulama tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu dikarenakan mereka memandang Fawatih As-Suwar masuk golongan mutasyabihah.

  1. 3.      Sebaik-baik Makna Fawatih As-Suwar

Al-Khuwaiby berpendapat bahwa Fawatih itu merupakan tanbih kepada Nabi, supaya Nabi lebih dahulu mendengarkan suara itu, lalu Nabi memberikan perhatian kepada apa yang disampakan kepadanya.

As-Sayid Rasyid Ridha, penyusun tafsir al-manar, berpendapat bahwa tanbih tersebut sebenarnya ditujukan dihadapkan kepada orang-orang musyrik di Makkah dan kepada ahli kitab di Madinah bukan kepada Nabi karena beliau selalu dalam keadaan sadar dan siap menanti kedatangan wahyu.

 

 

Bagian Kelima

CARA-CARA MEMBACA AL-QUR’AN (ILMU QIRA’AT)

  1. 1.      Makna Al-Qur’an Diturunkan atas Tujuh Huruf

Telah kita ketahui bahwa al-ahruf as-sab’ah (huruf yang tujuh) yang diturunkan ke dalam Al-Qur’an, tidak mungkin dimaksudkan dengan  qira’at sab’ah yang masyhur itu. Hal ini ditegaskan karena banyak ulama yang menyangka bahwa qira’at sab’ah dimaksudkan dengan huruf yang tujuh.

  1. 2.      Ahli Qurra

Qira’at sab’ah yang terkenal itu adalah suatu usaha yang dilakukan Ibnu Mujahid. Para imamnya ialah Abdullah ibn Katsir ad-Dari (Makkah), Nafi’ ibn Abd ar-Rahman ibn Nu’aim (Madinah), Abdullah al-Yahshabi yang terkenal dengan nama Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Basrah), Hamzah, Ashim dan Al-Kisa’i (Kufah).

Dalam hal ini ada suatu dabith yang apabila sempurna diperoleh pada sesuatu qira’at wajiblah qira’at itu diterima. Oleh karena sempurnalah dabith ini maka kita jumpai qira’at 10 dan qira’at 14.

Qira’at 10 ialah qira’at 7 yang ditambah: qira’at Ya’qub, qira’at Khalaf ibn Hisyam, dan qira’at Yazid ibn Al-Qa’qa’ yang terkenal dengan nama Abu Ja’far. Qira’at 14 adalah qira’at yang 10 ditambah: Qira’at Al-Hasan al-Bishri, Muhammad ibn Abd ar-Rahman yang terkenal dengan nama Ibnu Muhaishin, Yahya ibn Mubarak al-Yazidi, Abu Al-Farji Muhammad ibn Ahmad asy-Syanabudz.

  1. 3.      Qira’at yang Benar dan yang Salah

Segala qira’at yang tidak diterima dengan jalan mutawatir, tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar shalat dan tidak wajib dianggap sebagai Al-Qur’an. Pendapat serupa didukung oleh An-Nawawi di dalam Syarah al-Muhazhzhab: “Tidak boleh dibaca, baik di dalam shalat maupun di luarnya, qira’at yang syadzdzah, karena dia bukan Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya yang diterima dengan jalan mutawatir, qira’at yang syadzdzah tidak mutawatir. Orang yang mengatakan ini adalah orang yang keliru atau orang yang jahil. Jika ada seseorang membaca qira’at yang syadzdzah haruslah ditegur. Fuqaha Baghdad sependapat menetapkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan memakai qira’at syadzdzah haruslah disuruh bertobat. Ibn Abd al-Bar menukilkan ijma’ ulama bahwa tidak boleh dibaca Al-Qur’an dengan qira’at syadzdzah, tidak boleh bershalat di belakang orang yang membaca Al-Qur’an dengan qira’at-qira’at itu”.

Untuk membedakan mana qira’at yang diterima dari qira’at-qira’at yang syadzdzah, para ulama telah menetapkan suatu dhabith bagi qira’at-qira’at yang diterima, yaitu yang mempunyai 3 syarat:

1)      Sesuai dengan Rasam (adat) salah satu mushaf Ustman walaupun secara takdir.

2)      Sesuai dengan sesuatu kaidah Arabiyah walaupun dalam sesuatu segi.

3)      Sanadnya shahih, walalupun diterima dari qari yang selain qari 7 dan qari 10.

Pegangan kita dalam hal ini mana yang paling shahih nukilannya, bukan mana yang paling sesuai dengan kaidah Arabiyah. Kita menjadikan Al-Qur’an sebagai hakim atas kaidah-kaidah lughah dan kita tidak menjadikan lughah dan nahwu sebagai hakim atas Al-Qur’an. Ulama-ulama nahwu mengambil kaidah-kaidah mereka dari Al-Qur’an dari Al-Hadits dan dari tutur kata bangsa Arab.

 

 

Bagian Keenam

NASIKH WA AL-MANSUKH

  1. 1.      Makna Nasakh

Lafal nasakh mengandung beberapa makna dari segi bahasa, yaitu: 1) ‘izalah (menghilangkan); 2) tabdil (mengganti/menukar); 3) tahwil (memalingkan); 4) naql (menukilkan/memindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain).

  1. 2.      Pendapat-pendapat Ulama tentang Nasakh Al-Qur’an

Sebagian ulama menolak makna keempat tadi, dengan alasan bahwa si nasikh tidak dapat mendatangkan lafal-lafal yang dimansukh, tetapi hanya mendatangkan lafal lain.

  1. 3.      Pendapat-pendapat Ahli Tahqiq

Dalam masalah nasakh kita tidak dapat berpegang kepada pendapat ahli-ahli tafsir, tidak pula kepada ijtihad para mujtahid tanpa ada nukilan yang benar dan tanpa ada pertentangan yang nyata, karena nasakh berarti mengangkat suatu hukum yang telah tetap di masa Nabi. Pegangan kita dalam hal  ini hanyalah naqal dan sejarah, bukan pendapat dan ijtihad.

Para muhaqqiq menandaskan bahwa kebanyakan ayat yang disangka oleh ahli tafsir mansukhah atau nasikhah, sebenarnya hanya penangguhan hukum atau suatu kemujmalan yang ditunda penjelasannya sampai kepada waktu dirasa perlu atau untuk yang khusus. Mereka menyangka bahwa yang demikian itu nasakh, padahal bukan.

 

 

Bagian Ketujuh

ILMU RASM AL-QUR’AN

  1. 1.      Dasar-dasar Ilmu Rasm Al-Qur’an

Seperti yang kita ketahui bahwa awal mula penulisan dan penyebaran Al-Qur’an dilakukan pada zaman khalifah Utsman. Panitia negara yang terdiri dari 4 orang (lajnah ruba’iyah) menempuh suatu sistem yang tertentu yang disetujui oleh khlifah dalam menulis kalimat-kalimat Al-Qur’an dan huruf-hurufnya. Thariqah ini telah diistilahkan oleh para ulama dengan nama rasam mushaf, rasam Utsman atau rasam Utsmany. Bahkan ada yang mengatakan rasam Utsmany adalah rasam tauqify.

  1. 2.      Cara-cara Menulis Al-Qur’an

Ahmad ibn Hanbal dan Malik menyampaikan pendapat yang senada mengenai hal ini bahwasanya orang yang menulis Al-Qur’an diharuskan rasam Utsmany. Tujuannya adalah untuk memelihara persatuan, supaya kita tetap berpegang pada satu syi’ar dan satu istilah. Dan karena yang membuat dustur ini adalah Utsman, sedang yang melaksanakannya adalah Zaid ibn Tsabit seorang penulis wahyu dan seorang kepercayaan Rasul.

Sedangkan pendapat Al-Izz ibn Abd as-Salam yang pada intinya adalah bolehlah kita bahkan wajib menuliskan Al-Qur’an dengan tulisan dan istilah-istilah yang berkembang dalam masyarakat, tapi hendaklah tetap pula memelihara yang sesuai dengan naskah Utsman.

 

 

Bagian Delapan

AYAT YANG MUHKAM DAN MUTASYABIHAH

Ayat yang muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara gamblang, sedikit pun tidak ada yang tersembunyi padanya. Sedangkan ayat yang mutsyabihah adalah yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah.

Yang tergolong ke dalam muhkam ialah nash dan zhahir. Sedangkan yang masuk ke dalam mutasyabih ialah mujmal, muawwal dan musykil. Karena lafal mujmal memerlukan penjelasan, lafal muawwal tidak menunjukkan kepada susuatu makna kecuali sesudah ditakwil, sedang musykil tersembunyi petunjuknya. Pada intinya ada kesamaran dan kemubhaman.

Jelasnya, pada ayat yang muhkam, menyebabkan kita tidak perlu membahasnya. Karena dengan membacanya, kita telah mengetahui maksudnya. Namun maksud yang tersembunyi dari ayat-ayat mutasyabih itu menyebabkan kita membahasnya, supaya kita mengetahui dan menjauhinya agar tidak tergolong ke dalam golongan yang sesat.

 

 

Bagian Kesembilan

PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DI DALAM AL-QUR’AN (ILMU AMTSAL AL-QUR’AN)

Faedah-faedah Amtsal, diantaranya adalah:

  1. Melahirkan sesuatu yang dapat dipahami dengan akal dalam bentuk rupa yang dapat dirasakan oleh panca indera, lalu mudah diterima oleh akal.
  2. Mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang jauh dari pikiran.
  3. Mengumpulkan makna yang indah dalam suatu ibarat yang pendek.
  4. Sebagai pengajaran dan peringatan dari Allah.

2.   Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an

  • Amtsal yang tegas (musharrahah)

Amtsal ini ialah yang ditegaskan di dalamnya lafal matsal atau yang menunjuk kepada tasybih. Seperti terdapat dalam surat Al-Baqarah dan surat Ar-Ra’d mengenai orang munafik yang diumpamakan dengan api dan air.

  • Amtsal yang tersembunyi (kaminah)

Amtsal yang satu ini tidak ditegaskan lafal tamtsil di dalamnya. Tetapi menunjuk kepada beberapa makna yang indah yang mempunyai tekanan apabila ia dipindahkan kepada yang menyerupainya. Para ulama membuat contoh tentang amtsal ini, salah satunya adalah ayat yang sesuai dengan perkataan:

“Sebaik-baik urusan adalah yang simbang/ pertengahan”

Dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 68, yang artinya:

“…Sapi betina yang tidak tua tidak muda, pertengan antara itu…”

  • Amtsal yang terlepas (mursalah)

Amtsal Mursalah ialah kalimat-kalimat yang disebut secara terlepas tanpa ditegaskan lafal tasybih tetapi dapat digunakan untuk tasybih. Diantaranya ialah:

“…Sekarang ini jelaslah kebenaran itu…” (QS. Yusuf:51)

 

 

Bagian Kesepuluh

SUMPAH DI DALAM AL-QUR’AN (ILMU AQSAM AL-QUR’AN)

  1. 1.      Faedah-faedah Sumpah dalam Al-Qur’an

Qasam atau sumpah dalam Al-Qur’an adalah suatu penta’kidan atau penguatan untuk menghilangkan keragu-raguan, penolakan dan pertentangan dari manusia yang meragukan kebenaran Al-Qur’an.

  1. 2.      Muqsam bihi dalam Al-Qur’an

Allah bersumpah dengan Dzat-Nya yang suci atau dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah bersumpah pula dengan sebagian makhluk-Nya. Sumpah dengan makhluk-Nya ini merupakan dalil bahwa makhluk itu salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar.

  1. 3.      Macam-macam Sumpah

Sumpah ada 2 macam; sumpah zhahir dan sumpah mudhmar. Sumpah zhahir ialah sumpah yang disebutkan fi’il qasamnya secara gamblang dan ditegaskan pula muqsam bihinya. Seperti firman Allah swt dalam surat Al-Qiyamah ayat 1-2.

Sumpah mudhmar adalah kebalikan dari sumpah zhahir, yang tidak ditegaskan fi’il dan muqsam bihinya. Qasam ini ditunjuki oleh la taukid yang masuk kepada jawab qasam. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 186:

 

 

Bagian Kesebelas

KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN

  1. 1.      Pegertian Qashash

Qashash bermakna urusan, berita, khabar dan keadaan. Qashash Al-Qur’an adalah khabar-khabar Al-Qur’an tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa lalu, peristiwa yang telah terjadi. Al-Qur’an meliputi keterangan-keterangan yang telah terjadi, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri serta menerangkan jejak-jejak dari kaum-kaum purba itu.

  1. 2.      Macam-macam Kisah dalam Al-Qur’an

Ada 3 macam kisah dalam Al-Qur’an:

  1. Kisah para nabi
  2. Kisah yang berpautan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan orang-orang yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, seperti kisah orang-orang yang pergi dari kampong halamannya karena takut mati.
  3. Kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa Rasulullah saw.
  1. 3.      Faedah Kisah-kisah Al-Qur’an
    1. Menjelaskan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syariat yang disampaikan oleh para Nabi.
    2. Mengokohkan hati Rasul dan hati umat Muhammad dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan.
    3. Mengabadikan usaha-usaha para Nabi dan pernyataan para Nabi terdahulu adalah benar.
    4. Memperlihatkan kebenaran Nabi Muhammad saw dalam dakwahnya dengan dapat menerangkan keadaan-keadaan umat yang telah lalu.
    5. Menyingkap kebohongan ahli kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
    6. Menarik perhatian mereka yang diberikan pelajaran.
  1. 4.      Hikmah Pengulangan Kisah dalam Al-Qur’an

Sebuah kisah disebut berulang kali dalam bentuk yang berbeda-beda, kadang-kadang pendek, kadang-kadang panjang. Dan diantara hikmahnya ialah:

  1. Menandaskan bahwa kebalaghahan Al-Qur’an adalah yang  paling tinggi.
  2. Menampakkan kekuatan i’jaz.
  3. Memberikan perhatian penuh terhadap kisah itu.
  4. Karena berbeda tujuan.

 

 

Bagian Kedua Belas

DEBAT DI DALAM AL-QUR’AN (ILMU JADAL AL-QUR’AN)

  1. 1.      Takrif Jadal

Jadal dan jidal adalah bertukar pikiran untuk mengalahkan lawan. Allah menyuruh Rasul-Nya supaya mendebat orang-orang musyrik dengan jalan mematahkan fanatismenya. Bertukar pikiran (munazharah) dibolehkan oleh Allah dengan maksud untuk menampakkan kebenaran serta menerangkan hujjah tentang benarnya apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

  1. 2.      Jalan yang Ditempuh Al-Qur’an dalam Munazharah

Al-Qur’an tidak melakukan cara yang ditempuh oleh para mutakallimin yang memerlukan adanya mukaddimah dan natijah seperti halnya yang diterangkan dalam ilmu mantiq. Hal itu disebabkan karena 1) Al-Qur’an menghadapi orang Arab dengan bahasa yang diketahui oleh mereka; 2) Berpegang kepada yang mudah ditanggapi, yaitu beriman kepada apa yang dapat dirasakan tanpa memerlukan pemikiran yang dalam; 3) mempergunakan tutur kata yang tidak mudah dipahami.

  1. 3.      Macam-macam Munazharah dalam Al-Qur’an
    1. Menyebutkan ayat-ayat yang menyuruh kita melakukan nazhar dan tadabbur, memperhatikan keadaan alam untuk menjadi dalil buat menetapkan dasar-dasar kaidah akidah.
    2. Membantah pendapat-pandapat kaum penantang.

Untuk itu ada beberapa macam cara yang ditempuh oleh Al-Qur’an:

  1. Menanyakan tentang urusan-urusan yang diterima baik oleh akal agar orang yang dihadapi itu membenarkan apa yang tadinya diingkari, seperti mengambil dalil adanya makhluk ini tentang adanya Khalik.
  2. Mengambil dalil dengan asal kejadian untuk menetapkan adanya hari bangkit.
  3. Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan kebenaran sesuatu yang berlawanan dengan pendapat lawan.
  4. Mengumpulkan beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat itu bukanlah illat hukum yang di dalam istilah dinamakan sabr dan taqsim.
  5. Menundukkan lawan dan mematahkan hujjahnya dengan menerangkan bahwa pendapat lawan itu adalah pendapat yang tidak dibenarkan oleh seseorang pun.

 

 

Bagian Ketiga Belas

ILMU TAFSIR

  1. 1.      Sejarah Perkembangan Ilmu Tafsir

Tafsir Al-Qur’an telah tumbuh di masa Rasulullah saw., dan beliaulah penafsir awal terhadap kitab Allah. Pada masanya, para sahabat tidak berani menafsirkan Al-Qur’an, Rasulullah sendirilah yang memikul tugas menafsirkan Al-Qur’an. Barulah setelah Nabi wafat, para sahabat yang alim merasa perlu untuk menerangkan apa yang mereka ketahui dan menjelaskan apa yang mereka pahami tentang maksud-maksud Al-Qur’an. Setelah zaman sahabat maka penafsiran dilakukan oleh para tabi’in dan selanjutnya dilakukan oleh tabi’it tabi’in.

Pada masa tabi’it tabi’in, tafsir-tafsir ulama yang telah lalu dikumpulkan dan disusun. Dan Ibn Jarir ath-Thabary boleh dikatakan menjadi pemuka dari segala ahli tafsir dan merupakan sumber dari tafsir-tafsir yang datang sesudahnya. Setelah zaman Ath-Thabary, barulah para ahli tafsir menempuh beberapa jalan yang berbeda. Karenanya lahirlah tafsir yang dinamakan:

  • Tafsir bi al-matsur yaitu tafsir yang berpedoman kepada tafsir-tafsir yang disandarkan kepada sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.
  • Tafsir bi ar-ra’yi, yaitu penafsiran yang dilakukan dengan jalan ijtihad. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, ada yang setuju dan ada yang menolak. Mereka yang menolak menyatakan bahwa penafsiran yang dilakukan tanpa alasan yang kuat atau tanpa memperhatikan kaidah-kaidah bahasa dan prinsip-prinsip syara’ atau mengedepankan kepentingan. Sementara yang setuju dengan tafsir ar-ra’yi mengatakan bahwa apabila seorang mufassir telah memiliki syarat-syarat yang diperlukan, maka tidak ada halangan baginya berusaha menafsirkan Al-Qur’an dengan ar-ra’yi. Bahkan tidak salah kalau kita mengatakan bahwa Al-Qur’an sendiri mengajak kita berijtihad dalam memahami ayat-ayat-Nya dan ajaran-ajaran-Nya.

Ada 4 syarat yang diperlukan untuk membolehkan seseorang menafsirkan Al-Qur’an dengan ar-ra’yi (As-Suyuti menukilkan dari Az-Zarkasyi):

  1. Mengambil riwayat yang diterima dari Rasulullah dengan menghindari yang dha’if dan yang maudhu’.
  2. Memegangi pendapat para sahabi.
  3. Mempergunakan ketentuan-ketentuan bahasa dengan menghindari sesuatu yang tidak ditunjukkan kepadanya oleh bahasa Arab yang terkenal.
  4. Mengambil mana yang dikendaki untuk siyaq (hubungan) pembicaraan dan ditunjuki oleh ketentuan-ketentuan syara’.
  1. 2.      Takrif Tafsir dan Takwil

Menurut bahasa Tafsir ialah idhah dan tabyin = menjelaskan (menerangkan).  

Sedangkan menurut syara’, ialah:

  • Suatu ilmu yang di dalamnya dibahas tentang keadaan-keadaan AL-Qur’an Al-Karim dari segi dalalahnya kepada apa yang dikehendaki Allah, sebatas yang disanggupi manusia.
  • Suatu ilmu yang dibahas di dalamnya tentang keadaan-keadaan Al-Qur’an dari segi turunnya, segi sanadnya, segi cara menyebutnya, segi lafalnya dan segi makna-maknanya yang berpautan dengan lafal dan yang berpautan dengan hukum.
  • Suatu ilmu ayng di dalamnya dibahas tentang cara-cara menyebut lafal Al-Qur’an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik secara ifrat maupun secara tarkib dan makna-maknanya yang ditampung oleh tarkib dan yang selain itu, seperti mengetahui nasakh, sebab nuzul dan sesuatu yang menjelaskan pengertian, seperti kisah dan matsal.

Beberapa pendapat mengenai takwil:

  • Takwil adalah tafsir (menurut golongan mutaqiddimin, Mujahid dan Ibn Jarir).
  • Sebagian yang lain mengatakan bahwa tafsir dan takwil berbeda. Tafsir lebih umum dari pada takwil. Takwil menerangkan kehendak lafal atau petunjuk lafal kepada yang tidak segera ditanggapi.
  • Tafsir dan takwil berlawanan.
  • Tafsir ialah menetapkan dengan penuh keyakinan bahwa demikianlah kehendak Allah, sedang Takwil ialah mentarjihkan salah satu makna yang mungkin diterima oleh lafal, tanpa meyakini bahwa itulah yang dimaksudkan. (Al-Maturidy)
  • Tafsir menerangkan arti lafal dengan jalan riwayat. Takwil menerangkan arti lafal dengan jalan dirayat.
  • Menurut mufassirin takwil bermakna memalingkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mutasyabihah, dari maknanya yang zhahir, kepada makna-makna yang sesuai dengan makna yang diberikan oleh ulama-ulama salaf yaitu menyerahkan pengertian-pengertian nash itu, kepada Allah sendiri tanpa menentukan suatu makna.

Tafsir dapat dibagi kepada dua bagian:

  1. Tafsir yang beku yang fungsinya hanya sekedar menerangkan kedudukan lafal, mengi’rabkan kalimat, menerangkan balaghah-balaghah Al-Qur’an. Tafsir seperti ini lebih dekat kepada menerapkan kaidah-kaidah bahasa Arab daripada pengerian apa yang Allah kehendaki dari hidayah-hidayah-Nya.
  2. Tafsir yang menjelaskan hidayah-hidayah Al-Qur’an, ajaran-ajaran Al-Qur’an dan hikmah-hikmah Allah mengenai sesuatu yang diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’an dengan cara yang dapat memikat hati, membuka mata dan menggerakkan jiwa untuk mengambil petunjuk dari Al-Qur’an.

 

 

Bagian Keempat Belas

KAIDAH-KAIDAH YANG DIPERLUKAN PARA MUFASSIR

Para ulama telah membuat istilah-istilah yang menjadi rumusan guna menafsirkan Al-Qur’an, yaitu:

  1. 1.      Manthuq Al-Qur’an dan Mafhumnya
  • Manthuq

Secara bahasa manthuq berarti yang diucapkan. Dalam hal ini, yang diucapkan adalah ayat Al-Qur’an. Intinya adalah dengan hanya memperhatikan lafal ayat (yang diucapkan), kita sudah dapat mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Yang termasuk dalam bidang Manthuq adalah:

Nash. Yaitu lafal yang hanya menerima satu makna saja, tidak lain seperti firman Allah swt:

“…Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna…” (QS. Al-Baqarah:196)

Lafal ini tidak mungkin menerima selain dari sempurna sepuluh hari yang disebutkan oleh ayat dan ditegaskannya.

Zhahir. Ialah lafal yang memberi suatu makna. Namun maknanya dapat dipahami dengan segera dan mungkin pula sebaliknya. Umpamanya firman Allah swt:

“…Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya…” (QS. Al-Baqarah:173)

 

Lafal Baghi diterapkan kepada dua makna:

a)      Makna yang tidak kuat (marjuh), yang tidak segera terpaham yaitu orang jahil.

b)      Makna yang kuat (rajih), yang segera terpaham yaitu orang yang zhalim.

Muawwal. Adalah yang tidak dapat dimaknakan dengan maksud zhahir, lalu harus dimaknakan dengan makna yang lain yang dikehendaki oleh siyaq al-kalam. Umapamanya firman Allah swt:

 “… Dia bersama kamu di mama saja kamu berada…” (QS. Al-Hadid:4)

Memaknakan firman “Allah bersama kamu” dengan pengertian bahwa Dzat Allah dekat dengan kita adalah mustahil. Maka mentakwilkan ma’iyah dengan qudrat, ilmu dari riwayat, itulah makna yang shahih yang dapat ditanggapi dari lafal yang dituturkan sendiri.

 

  • Mafhum

Definisi yang diberikan para ulama adalah “Makna yang ditunjukinya oleh lafal pada bukan tempat yang disebutkan (bukan makna dari lafal yang disebutkan sendiri)”. (Al-Itqan, II:53). Jelasnya bahwa penafsiran yang diambil adalah bukan dari lafal dhahirnya akan tetapi kita mengambil makna yang tersirat dari lafal ayat tersebut.

Apabila hukum mafhum sesuai dengan manthuq maka dinamakan mafhum muwafaqah.

Dan apabila hukum mafhum tersebut tidak sesuai dengan manthuq, maka dinamakan mafhum mulakhafah.

Apabila mafhum muwafaqah menunjuk kepada makna yang harus diambil dan diperhatikan, maka dinamakan fahwal khithab. Seperti petunjuk yang diberikan Allah swt:

“…Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah”…” (QS. Al-Isra:23)

Pengertiannya adalah bahwa memukul kedua ibu bapak lebih patut diharamkan daripada mengatakan “ah”.

Dan apabila mafhum muwafaqah menunjukkan kepada makna yang bersamaan, dinamakan lahn al-kitab. Seperti petunjuk yang diberikan Allah swt (An-Nisa:10):

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”

Yang dimaksudkan “memakan harta anak yatim” disini memiliki kemiripan tafsir dengan “membinasakannya”, baik membinasakannya dengan jalan memakannya ataupun membakarnya.

 

Ada 3 macam mafhum mulakhafah:

  1. Mafhum sifat (Mafhum washfy); Yang menunjukkan kepada mafhum sifat ialah: hal, dharaf dan ‘adad.
  2. Mafhum syarat (Mafhum syarthy)
  3. Mafhum hasher (Mafhum hashry)

 

  1. 2.      ‘Am Al-Qur’an dan Khashnya

          A) ‘Am

Menurut pemeriksaan dan penelitian para ahli, maka lafal-lafal umum terbatas dalam lafal-lafal sebagai berikut:

  • Lafal kullun, jami’un, kaffatun dan yang semaknanya.
  • Isim-isim maushul (mufrad, mutsanna, jamak, mudzakkar ataupun muannats)
  • Yang dima’rifatkan dengan lia’rifi al-jins (mufrad atau jamak)
  • Lafal jamak yang dima’rifahkan dengan idhafah
  • Isim-isim syarat
  • Isim nakirah yang terkandung nafyu didalamnya

         B) Khash

Lafal khash dalam Al-Qur’an adakala muthlaq, muqayyad, amr dan nahyu.

 

  1. 3.      Mujmal Al-Qur’an dan Mufashalnya

          A) Mujmal

Para ulama mengatakan bahwa mujmal ialah “Yang tidak jelas maksudnya” atau “Yang mempunyai petunjuk kepada salah satu dari dua urusan yang tidak ada keistimewaan salah satunya terhadap yang lain”.

Mendatangkan nash secara mujmal menimbulkan ketidakjelasannya maksud. Hal ini terjadi karena:

a)      Lafal itu jarang dipakai. Maka lafal itu ditafsirkan sendiri orlh siyaq al-kalam.

b)      Kemusytarakan pada lafal.

c)      Perbedaan tempat kembali dhamir.

d)     Adanya taqdim dan takhir.

Menjelaskan yang mujmal itu terkadang dilakukan denga As-Sunnah, karena sesungguhnya Al-Qur’an dan Al-Hadits saling melengkapi dalam menyempurnakan kebenaran.

 

Bagian Kelima Belas

I’JAZ AL-QUR’AN

  1. 1.      Definisi I’jaz

I’jaz artinya membuktikan kelemahan. I’jaz ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila i’jaz telah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz. Al-Qur’an merupakan mu’jiz karena tidak dapat dilemahkan oleh siapa pun yang padanya terdapat berbagai keagungan dan hakikat yang tinggi yang dicakup oleh rahasia-rahasia yang masih banyak belum terpecahkan manusia.

 

  1. 2.      Cara-cara kei’jazan Al-Qur’an

Berbagai pendapat tentang cara-cara kei’jazan Al-Qur’an, ialah:

  • Dengan jalan shirfah, yakni Allah telah memalingkan orang Arab dari menentang Al-Qur’an, padahal mereka sanggup melakukannya. (An-Nadhdham dan Al-Murtadha)
  • Kei’jazan Al-Qur’an tetap berlaku sepanjang masa bukan karena Allah mencabut kemampuan orang Arab melakukannya.
  • Dengan balaghahnya yang belum ada tandingannya. (para ahli bahasa Arab dan sastra)
  • Dengan mengkhabarkan hal-hal gaib yang hanya diperoleh dengan jalan wahyu dan mengkhabarkan segala urusan yang telah lalu yang tidak diterangkan oleh seorang ummi (yang tidak mempelajari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada umat-umat yang telah lalu dan tidak pula bergaul dengan ahli kitab).
  • Karena Al-Qur’an mengandung berbagai macam ilmu dan hikmah-hikmah yang sangat mendalam yang terkandung dalam lafal, uslub, penempatan huruf di dalam kosa kata, penempatan kosa kata dalam kalimat dan penempatan kalimat dalam hubungan ayat dengan ayat.
  • Al-Qur’an mu’jiz di dalam lafalnya, maknanya dan nadhamnya. Padanya diungkap tirai hakikat kemanusiaan, ilmu-ilmu dan ma’rifah-ma’rifahnya, perundang-undangannya dalam memelihara hak-hak asasi manusia dan membentuk masyarakat ideal.

 

  1. 3.      Kadar yang Mengi’jazkan dari Al-Qur’an

Kei’jazan Al-Qur’an terdapat pada suara-suara hurufnya, pada tekanan-tekanan kalimatnya, sebagaimana terdapat pada surat-surat dan ayat-ayatnya.

 

About ahfidz

I am the always curios person. n I do enjoy it as a part of my way.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2012
S S R K J S M
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 896 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: