//
you're reading...
Uncategorized

Model-Model Pembelajaran (1)

Problematika dan Kasus

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran di  beberapa sekolah, guru seringkali mengkondisikan para siswanya dengan kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat. Misalnya, mencatat bahan pelajaran sesuai dengan buku pegangan, mengerjakan soal-soal pada lembar kerja siswa sampai jam pelajaran selesai, dan lain sebagainya. Bahkan sering pula ditemukan bahwa guru untuk memudahkan kerjanya meminta salah seorang siswa mencatat materi pelajaran di papan tulis, kemudian siswa lainnya mencatat apa yang dicatat di papan tulis tersebut. Sementara guru yang bersangkutan, istirahat di ruang guru atau duduk di kelas asyik dengan kegiatannya sendiri.

Model mengajar tersebut, tentu saja dipandang tidak mendidik. Hal ini sebagaimana dikemukakan A.S. Neil (1973) yang mengatakan bahwa “…memaksakan apapun dengan kekuasaan adalah salah, seorang anak seharusnya tidak melakukan suatu kegiatan apapun sampai ia mampu berpendapat dengan mengemukakan pendapatnya sendiri”. Pandangan Neil ini memberikan gambaran bahwa para siswa diminta untuk berpikir dan belajar tanpa tekanan dari siapa pun. Mereka hanya perlu bimbingan dan arahan, dengan memperhatikan prinsip-prinsip kemerdekaan dan demokrasi.

Kondisi sebagaimana diuraikan di atas, diperparah lagi dengan ketidakberdayaan kepala sekolah dalam memperbaiki keadaan. Kepala sekolah seolah-olah membiarkan para guru menggunakan model mengajar yang telah lama dilaksanakan tersebut dengan alasan masalah ini telah lumrah terjadi di lapangan. Seharusnya kepala sekolah mendorong dan membantu para guru menggunakan model-model mengajar yang dapat memberikan jaminan bahwa pembelajaran dilakukan atas dasar prinsip-prinsip paedagogik.

Dukungan kepala sekolah ini dapat diwujudkan dalam bentuk menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk program pembelajaran. Sejalan dengan itu, maka pijakan utama bagi praktek pembelajaran yang bijaksana dari seorang guru yang terlatih menurut Susan Issacs (1948) adalah memberikan suatu kerangka kerja yang kokoh untuk kontrol dan rutin serta bantuan nyata sesuai aturan sosial, namun tetap dengan memperhatikan kebebasan pribadi yang luas. Artinya, keterampilan guru dalam menggunakan sarana dan prasarana belajar secara optimal adalah penting.

continued…….>

About ahfidz

I am the always curios person. n I do enjoy it as a part of my way.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Agustus 2012
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 896 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: