//
you're reading...
Sumbang Tulis

Modern Social Theory

writed by: Asep S. Ag., M. Hum

Teori kemasyarakatan harus dapat dinilai dengan 3 kriteria:

  1. Harus dapat menjelaskan kenapa penomena sosial memiliki karakteristik.
  2. Harus dapat memberikan gagasan-gagasan agar dapat menganalisa proses sosial dan kejadian-kejadian yang komplek.
  3. Harus dapat membantu dalam pembentukan bagaimana struktur dan sistem sosial berjalan.

Ketiga kriteria diatas secara nyata saling berkaitan antara satu sama lain.

Mayoritas pendiri teori kemasyarakatan modern, seperti Comte, Marx, Spencer, Durkheim, Pareto, Simmel, dan Weber menjalankan tiga tujuan tadi. Akan tetapi belakangan ini, banyak teori yang memuat dalil-dalil yang tidak dapat dievaluasi; teori yang bermunculan tersebut hanya memuat banyak paradigma. Apakah teori-teori ini dapat digunakan, ataukah teori tersebut asli, ternyata masih menimbulkan keraguan. Terdapat beberapa prestasi terkemuka, akan tetapi masih cukup banyak perdebatan konsep, sketsa, gagasan, model, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Kebanyakan nilai-nilai teori kemasyarakatan dapat digabungkan dengan salah satu level/ tingkatan realita sosial, walaupun ada yang mencoba menggabungkan kedua level tersebut. Tingkatan yang pertama adalah aksi dan iteraksi sosial. Yang kedua adalah struktur dan sistem sosial. Dalam sejarah pemikiran sosial pernah ada beberapa usaha untuk menyatukan kedua level tadi secara bersamaan. Diantaranya; Durkheim berkonsentarasi pada level yang kedua. Simmel mencoba menyatukan keduanya akan tetapi hampir tidak berhasil. Pareto berhasil menyatukan keduanya secara bersamaan tetapi hasil perpaduan yang dilakukannya termasuk yang paling buruk. Marx, yang sama sekali tidak serius, malah lebih baik dari pada Pareto; tetapi tidak cukup baik.

Usaha yang terkenal berhasil dalam menyatukan dua level aksi dan sistem sosial dilakukan oleh Talcott Parsons. Tetapi skemanya memiliki banyak kelemahan. Pertama, seperti yang dilakukan Durkheim, dia cenderung menawarkan penjelasan-penjelasan yang menghilangkan bagian pembatas kebudayaan sebagai variabel independen yang penting. Artinya, bahwa proses interaksi jarang digunakan sebagai penjelasan terhadap bagaimana sistem-sistem sosial muncul dan berubah.

Kelemahan kedua, Parson cenderung reify sistem sosial dari pada menjelaskan properti sosial dalam ranah aksi. Hal ini banyak diperbincangkan dalam ranah evolusi sosial, dimana konsep-konsep adaptasi sosial, tujuan-tujuan sistem, dan lainnya memiliki peran yang besar.

Ketiga, Parson hampir tidak memusatkan pada aski sama sekali, akan tetapi lebih pada kondisi yang timbul. Contohnya, ketika Parson mendiskusikan kekuasaan, dia benar-benar memfokuskan pada perkiraan kegunaan kekuasaan dan dukungan saja. Dia tidak fokus terhadap perjuangan mendapatkan kekuasaannya. Artinya, dia mengabaikan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan yang berasal dari kekuasaan.

Pendapat-pendapat utama dalam buku ini adalah; ketika seorang ‘demystify’ (sebutan bagi orang-orang yang bukan borjuis) berkata tentang aksi sosial, interaksi, struktur sosial dan sistem sosial, sangat mungkin menjelaskan kenapa karekteristik mereka berbeda. Seorang awam pun akan mampu menjelaskannya tanpa perlu mendebatkan batasan-batasan ‘structural-funcional’ sebagai pertentangan terhadap model masyarakat lainnya. Atau manfaat ‘penggabugan/ konsensus model’ sebagai pertentangan terhadap ‘conflict-coercion model’.

Radcliffe Brown mengenalkan banyak sekali bacaan tentang persoalan diatas. Sehingga banyak menimbulkan perdebatan antara perbedaan teori-teori persuasi. Perkataan seperti ‘pronunciamento’ bisa saja menjadi kritik terhadap kondisi perdebatan teori ini dalam beberapa ilmu sosial, dimana kecenderungan akan teori dan model yang baru, yang tidak perlu ada persaingan satu sama lain, adalah alternative yang asli.

Persoalan yang klasik adalah oposisi antara teori ‘atomistic’ (yang menjelaskan penomena sosial dalam hal aksi-aksi individual dan interkasinya), dengan teori ‘holistic’ (yang menjelaskan kemunculan properti sistem sosial). Perdebatan kedua adalah antara pendukung dua model masyarakat; ‘soft model’ dan ‘hard model’. Soft model menekankan pada komitmen, solidaritas, nilai-nilai umum, integrasi, stabilitas dan penyesuaian diri. Sedangkan Hard model menitikberatkan pada konflik, kekerasan, penyalahgunaan integrasi dan perubahan yang mengganggu. Perdebatan ini menyuguhkan kegunaan tujuan dalam membetulkan antusiasme yang berlebihan untuk beberapa sistem-sistem sosial yang muncul dari interpretasi Parson.

Perdebatan ketiga menyangkut metodologi yang menekankan pada validitas penjelasan terhadap struktur sosial tanpa mengidealkan kenyataan yang semrawut dari kejadian-kejadian sosial. Perbedaan antara deskripsi sejarah ‘kejadian’, dengan pemeriksaan struktur atau sistem kemasyarakatan adalah pada masalah penekanan dan tingkatannya saja.

Untuk mengatakan bahwa tidak ada satupun perdebatan diatas yang berharga untuk diteruskan lebih jauh bukan merupakan dalih keortodokkan ataupun kepuasan dengan diri sendiri. Akan tetapi merupakan rekomendasi bahwa persoalan-persoalan yang memunculkan spekulasi teori harus didefinisikan kembali, atau paling tidak lebih dispesifikasikan lagi.

About ahfidz

I am the always curios person. n I do enjoy it as a part of my way.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Agustus 2012
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 896 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: